Home ยป Tipe Orang Penyebar Hoax di Tengah Pandemi Corona

Tipe Orang Penyebar Hoax di Tengah Pandemi Corona

Sep 08, 2020 / 687

SEJAK virus corona (COVID-19) dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), pada awal Maret 2020, sebanyak 3.911.454 orang di dunia terinfeksi virus corona hingga Jumat (8/5/2020).

Dikutip dari Worldometers, saat ini jumlah korban jiwa akibat virus tersebut mencapai 270.339 orang. Sedangkan yang sembuh tercatat sebanyak 1.340.231

Namun di tengah kemelut pandemi corona, masih saja ada sekelompok orang yang menyebar hoax tentang virus tersebut. Teori konspirasi, misinformasi, dan spekulasi tentang virus corona telah membanjiri media sosial.

Dilansir dari BBC Indonesia, berikut ini adalah tujuh jenis orang yang memulai dan menyebarkan hoaks atau berita bohong soal pandemi corona.

1. Joker

Anda mungkin berharap tidak ada orang yang akan tertipu oleh voice note WhatsApp yang beredar, yang mengklaim pemerintah sedang memasak lasagna raksasa di stadion Wembley untuk memberi makan warga London. Tetapi beberapa orang tidak mengira itu adalah lelucon.

Ada pula orang iseng yang membuat tangkapan layar palsu, yang isinya pemerintah akan mendenda si penerima pesan karena terlalu sering meninggalkan rumah. Pembuat pesan palsu berpikir akan lucu untuk menakut-nakuti orang yang melanggar aturan lockdown.

Setelah mendorong pengikut akun media sosialnya membagikan pesan palsu itu di Instagram, pesan itu sampai ke grup Facebook lokal dan direspons oleh warga yang khawatir.

2. Penipu

Pesan palsu lain seakan-akan dikirim oleh pemerintah. Pesan semacam itu dibuat oleh penipu yang mencari uang dari pandemi.Salah satu penipuan yang diselidiki oleh organisasi Full Fact pada bulan Maret adalah pesan yang menyebut pemerintah menawarkan kelonggaran cicilan dan meminta rincian bank mereka.

Foto teks penipuan dibagikan di Facebook. Karena diedarkan melalui pesan teks, sulit untuk mengetahui siapa yang berada di balik penipuan itu.

Para penipu mulai menggunakan berita palsu tentang virus untuk menghasilkan uang sejak awal Februari, dengan email yang mengatakan orang-orang dapat "mengklik tinjauan mengenai cara penyembuhan COVID-19" atau mereka berhak atas pengembalian pajak karena wabah.

3. Politisi

Informasi yang salah soal corona tidak hanya datang dari internet. Pekan lalu, seorang kepala negara mempertanyakan apakah mengekspos tubuh pasien dengan sinar UV atau menyuntikkan disinfektan ke tubuh mereka dapat membantu pengobatan virus corona. Dia berspekulasi dan mengambil fakta di luar konteks.

Kemudian dia mengklaim komentar itu sarkastik. Tetapi itu tidak menghentikan orang-orang menelepon hotline untuk bertanya apa mereka bisa menyembuhkan diri dengan disinfektan.

4. Orang yang percaya teori konspirasi

Semua ketidakpastian tentang virus corona membuat teori konspirasi berkembang biak. Sebuah pesan keliru tentang bagaimana sukarelawan yang berpartisipasi dalam uji coba vaksin di Inggris meninggal dunia menyebar luas dan menyebabkan resistensi terhadap vaksin. Padahal berita itu fiksi.

Wawancara dengan David Icke, orang yang kerap menyebarkan teori konspirasi di Inggris, yang tayang di YouTube juga menyebar klaim keliru bahwa 5G ada kaitannya dengan virus corona. Wawancara itu kemudian dihapus oleh YouTube.

Icke sempat muncul di stasiun TV London, tayangan yang kemudian diputuskan melanggar standar penyiaran Inggris.

Halaman Facebook-nya kemudian juga dihapus oleh Facebook karena dianggap memberikan "informasi kesehatan yang salah yang dapat menyebabkan kerusakan fisik". Teori konspirasi telah menyebabkan perusakan pada sejumlah tiang 5G.

5. Orang dalam

Kadang-kadang informasi yang salah tampaknya berasal dari sumber yang dapat dipercaya atau orang dalam seperti dokter, profesor atau pekerja rumah sakit. Tetapi sering kali orang dalam tersebut tidak memberikan informasi tepat.

Seorang wanita dari Crawley di West Sussex adalah warga yang merekam suara panik yang memprediksi tanpa dasar jumlah korban jiwa penderita COVID-19 yang muda dan sehat.

Dia mengaku mendapat informasi itu melalui pekerjaannya di layanan ambulans. Namun tidak menanggapi ketika diminta untuk membuktikan bahwa ia benar-benar tenaga kesehatan. Jadi kita tidak tahu apakah dia benar-benar seorang tenaga kesehatan.

6. Anggota keluarga

Rekaman suara yang mengkhawatirkan itu viral karena memicu kekhawatiran dan orang-orang, yang kemudian membagikan pesan itu ke teman dan keluarga mereka. Termasuk Danielle Baker, ibu empat anak dari Essex, yang meneruskan pesan di Facebook messenger dengan membubuhi catatan, "kalau-kalau itu benar".

"Awalnya saya waspada karena rekaman itu dikirim dari seorang wanita yang saya tidak tahu," katanya seperti dikutip BBC Indonesia.

"Saya meneruskan pesan itu karena saya dan saudara perempuan saya memiliki bayi yang seumuran dan juga seorang anak lainnya. Kita semua memiliki risiko tinggi dalam rumah."

Mereka berusaha membantu orang lain dan berpikir apa yang mereka lakukan benar. Tapi, tentu saja, itu tidak membuat pesan yang mereka sampaikan benar.




Artikel Terbaru

14/09/2020
Belajar Mengembangkan Bisnis Pada Era Industri 4.0

Read More

14/09/2020
Metode Persediaan Stok Barang FIFO, LIFO, dan Average

Read More

13/08/2020
Kata-Kata Promosi Yang Menarik Untuk Produk Baru Anda

Read More

05/11/2020
Cara Jitu Mengembangkan Usaha yang Perlu Anda Ketahui

Read More

15/08/2020
Dirgahayu Indonesiaku 75 Tahun

Read More

Alamat Kantor :

Jl. Toddopuli Raya, Kec. Panakukkang Kota Makassar

Kontak

081241856501/ 085241282310

Peta Lokasi

Lihat Peta Lokasi